Bolehkah memberi nama anak dengan nama ayah di belakang?

Bolehkah memberi nama anak dengan nama ayah di belakang?

Bolehkah memberi nama anak dengan nama ayah di belakang?

Pertanyaan :

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Bagaimana seharusnya memberikan nama pada anak laki-laki ? Apakah harus mengikutkan nama Ayah nya karena anak laki-laki adalah Ahli waris.

جَزَاك اللهُ خَيْرًا

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam)

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبر كاته

Bolehkah memberi nama anak dengan nama ayah di belakang?

Kesimpulan:

Tidak perlu dan tidak harus mengaitkan atau menyamakan dengan nama ayah, sebab nama yang sama bukan tolok ukur, nasab dan darahlah yang menjadi ukuran. Dahulu Nabi kita Muhammad sholallohu ‘alaihi wassalaam tidak memberikan nama dirinya yang sama kepada putra-putranya, melainkan belau beri nama Qosim, Abdulloh, dan Ibrohim. Karena bagaimanapun nama putra kita tetap saja nasab tertulis setelahnya adalah kita sebagai ayahnya (bin ayahnya), dan kesamaan nama tidak menjadi tolok ukur pembagian waris.

Adapun mengikutkan dan menyandarkan nama kita setelah nama anak kita itu adalah identitas.

Dan pemberian nama menjadi hak ayah dan bernasab kepada Ayahnya bukan kepada Ibunya, dan tidak ada perselisihan atau khilaf para ulama akan hal itu. Anak laki-laki atau Anak perempuan bernasab kepada Ayahnya tidak ada perbedaan karena kelak dihari kiamat Allah akan memanggil hambanya dengan nama Fulan bin Fulan.

Urgensi Pemberian Nama Terbaik

Nama dalam bahasa Arab disebut dengan isim. Makna isim bisa jadi adalah ‘alamat (tanda). Isim juga bisa bermakna as samuu (sesuatu yang tinggi). Sehingga isim (nama) adalah tanda yang tertinggi (mencolok) pada seseorang.

Dengan nama inilah akan membedakan seseorang dan lainnya. Di antara maksud inilah para ulama bersepakat (berijma’) tentang wajibnya pemberian nama pada laki-laki dan perempuan. Sehingga tidak boleh seseorang pun di muka bumi ini yang tidak memiliki nama. Karena jika tidak punya nama, bagaimana bisa membedakannya dari manusia lainnya.

Karena pentingnya seseorang memiliki nama, sampai-sampai para pakar hadits ketika menemukan hadits terdapat seorang perowi yang mubham (tidak dikenal namanya), mereka pun mendhoifkan hadits tersebut sampai diketahui jelas siapa nama perowi tersebut.

Di antara urgensi pemberian nama terbaik disebabkan nama dapat membawa pengaruh pada orang yang diberi nama. Oleh karena itu, orang Arab mengatakan,

لِكُلِّ مُسَمَّى مِنْ اِسْمِهِ نَصِيْبٌ

“Setiap orang akan mendapatkan pengaruh dari nama yang diberikan padanya.”

Ini menunjukkan bahwa jika nama yang diberikan adalah nama yang terbaik, maka atsarnya (pengaruhnya) pun baik. Oleh karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa nama yang terbaik adalah ‘Abdullah karena nama tersebut menunjukkan penghambaan murni pada Allah. Begitu pula, dalam beberapa hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memberi nama dengan nama yang buruk seperti ‘Ashiyah (wanita yang bermaksiat, dengan huruf ‘ain dan shod (sedih) dan Zahm (sempit).

Intinya, nama begitu pengaruh dalam diri orang yang diberi nama. Coba bayangkan bagaimana jika seorang anak diberi nama dengan Hazn (sedih), pasti ia akan jadi orang yang terus-terusan bersedih karena mengingat namanya tersebut. Itulah urgensi penting dalam pemberian nama bagi si buah hati.

Pengaruh lainnya lagi, dari nama terbaik, seseorang dapat mengetahui bagaimanakah orang tuanya. Orang tuanya dapat diketahui dari nama anaknya, apakah ortunya itu sholih atautholih (lawan dari sholih). Sebagaimana orang arab pun mengatakan,

مِنْ اِسْمِكَ أَعْرِفُ أَبَاكَ

“Dari namamu, aku bisa mengetahui bagaimanakah ayahmu.”

Dari nama yang baik pula, seseorang bisa menyebarkan kebaikan. Lihatlah bagaimana jika seseorang diberi nama “Musa”. Dari nama ini, setiap orang yang mendengar nama tersebut bisa mengingat bagaimanakah sifat dan akhlaq mulia dari Nabi Musa ‘alaihis salam. Oleh karena itu, pemberian nama yang baik di sini termasuk menyebarsunnah hasanah di tengah-tengah umat. Maksud kami ini sebagaimana disebutkan dalam hadits,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

“Barangsiapa yang memulai mengerjakan perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mencontoh perbuatan itu”

Allahu a’lam..
Wabillahit taufiq…

Konsultasi Bimbingan Islam

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah

Bolehkah memberi nama anak dengan nama ayah di belakang?

Read Next

    September 14, 2022

    Bagaimana Cara ‘Mujahir’ (Orang Yang Melakukan Dosa Terang-Terangan) Bertaubat?

    September 14, 2022

    Apakah Ucapan “Insyaallah” Termasuk Hutang?

    September 12, 2022

    Apa Yang Dimaksud Dengan ‘Pezina’?

    September 8, 2022

    Apa Maksudnya Berbicara Tanpa Ilmu?

    August 31, 2022

    Apa Perbedaan Makna Kata Ganti “Aku, Dia Dan Kami” Untuk Allah Ta’ala?

    August 30, 2022

    Begini Cara Mencintai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam

    August 30, 2022

    Jabatan dan Kekayaan Untuk Tegaknya Syariat Agama Islam

    August 29, 2022

    Hukum Memperbanyak Mushaf Al-Qur’an

    August 17, 2022

    Pengertian, Tingkatan Sunnah Menurut Ilmu Hadist Dan Ilmu Fiqih

    August 4, 2022

    Hukum Memberi Batu Bata Di Sekeliling Kuburan

    Bolehkah nama anak menggunakan nama ayah di belakang?

    Ayat ini menegaskan urusan penamaan seseorang tidaklah main-main dalam Islam. Jika anak angkat saja dilarang memakaikan nama ayah angkatnya sebagai nama belakangnya, apalagi seorang istri yang memakai nama belakang dari nama suaminya. Jelas hal ini diharamkan secara mutlak.

    Bolehkah menambahkan nama suami dibelakang nama istri?

    Markaz al-Fatawa juga menegaskan, pencantuman nama suami di belakang nama istri adalah tradisi orang kafir yang tak boleh diikuti. Berdalil dari hadis Nabi SAW, "Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia digolongkan kepada kaum tersebut." (HR Abu Daud).

    Kenapa nama anak harus ada nama ayahnya?

    Di akhirat kelak, Allah Swt akan memanggil nama-nama tiap muslim yang diikuti nama ayah dengan menambahkan bin (anak laki-laki) dan binti (anak perempuan). Oleh karena itu, nasab atau garis keturunan dalam Islam sang buah hati berasal dari sang ayah.

    Kapan memberi nama bayi sesuai sunnah?

    Sebenarnya, hadits di atas tidak membatasi atau mewajibkan seseorang memberi nama pada hari ketujuh kelahiran. Jika ada orang tua memberikan nama pada hari pertama kelahiran, tentu tidak apa-apa.