Bagaimana kedudukan akal dalam islam apakah akal tunduk kepada wahyu atau sebaliknya

Permasalahan mendudukan akal menurut agama Islam sungguh penting untuk dipecahkan. Karena menjadi pondasi dalam ketaatan padaNya. Dalam artikel ini, akan dibahas seperti apa posisi akal dalam memahami Islam. Simak pembahasan artikel ini hingga akhir bacaan.

Soal:

Bagaimana kedudukan akal dalam Islam? Apakah akal tunduk kepada wahyu atau sebaliknya?

Jawab:

Pada dasarnya, akal merupakan asas untuk (1) membuktikan kebenaran Islam, dan (2) untuk memahami ajaran Islam, serta semua hal yang berhubungan dengan Islam.

Pertama, jika semesta pembicaraannya adalah akal sebagai alat untuk membuktikan keabsahan Islam sebagai agama, maka kita bisa menyatakan bahwa peran akal di sini berfungsi sebagai dalil (alat bukti). Misalnya, keimanan seorang muslim terhadap eksistensi Allah, Muhammad Utusan Allah, serta al-Qur’an sebagai kalamullah didasarkan pada dalil ‘aqliy. Artinya, akal sebagai dalil untuk membuktikan apakah Allah SWT itu eksis atau tidak, al-Qur’an itu kalamullah atau tidak, dan Muhammad itu utusan Allah atau bukan. Dalam tiga hal ini, Islam telah menggariskan bahwa akal berfungsi sebagai dalil atau alat untuk menguji ketiganya. Keimanan terhadap eksistensi Allah, al-Qur’an sebagai kalamullah, dan Mohammad sebagai utusan Allah, adalah fundamen paling mendasar yang akan membangun keseluruhan ajaran Islam. Sedangkan ketiga hal mendasar ini dibangun di atas pembuktian akal. Berarti, Islam adalah ajaran yang disangga di atas akal.

‘Aqidah dan Syariah==||* Keimanan terhadap eksistensi Allah* Keimanan terhadap Muhammad sebagai utusan Allah* Keimanan terhadap al-Qur’an sebagai Kalamullah||

Akal (sebagai alat bukti)

Ilustrasi kedudukan akal, sumber unsplash

Namun demikian, ini tidak berarti bahwa kedudukan akal di atas wahyu. Tidak boleh dipahami demikian. Peran akal di sini hanyalah sebagai alat untuk membuktikan kebenaran dan keshahihan ajaran Islam. Setelah, terbukti bahwa Allah itu eksis, Muhammad itu benar-benar utusan Allah, dan al-Qur’an adalah kalamullah, akal bisa menetapkan, bahwa semua hal yang terkandung di dalam al-Qur’an merupakan kebenaran yang tidak bisa disanggah lagi. Semua yang terkandung di dalam al-Quran mesti diyakini kebenarannya dan diamalkan oleh seluruh kaum muslim. Misalnya, keyakinan terhadap jin, malaikat, dan hari akhir tidak lagi didasarkan pada akal, akan tetapi didasarkan pada dalil naqliy yang telah dibuktikan kebenarannya melalui jalan akal, yakni al-Qur’an dan sunnah mutawatir. Setiap muslim harus tunduk dengan apa yang dibawa oleh Muhammad Saw. Akalnya harus tunduk dan menerima dengan pasrah semua perkara yang dibawa oleh Muhammad Saw, meskipun itu bertentangan dengan akalnya. Akal tidak bisa menjangkau, mengapa Allah SWT menciptakan surga, mengapa sholat mesti lima waktu dan seterusnya. Dalam perkara semacam ini, akal mesti tunduk di bawah wahyu, akalnya tidak boleh didudukkan sejajar atau lebih tinggi dibandingkan wahyu.

Kedua, adapun peran akal yang kedua adalah memahami wahyu (ajaran Islam) dan semua hal yang berhubungan dengannya. Tatkala seorang telah percaya kepada al-Qur’an dan Nabi Saw, maka ia dituntut untuk melaksanakan semua yang terkandung di dalamnya. Kewajiban untuk melaksanakan kandungan isi al-Qur’an mengharuskan seseorang untuk memahami teks-teks al-Qur’an serta semua hal yang berhubungan dengannya; misalnya memahami fakta yang hendak dihukumi dan sebagainya. Misalnya, seseorang tidak mungkin bisa mengerjakan sholat lima waktu sesuai dengan sunnah, jika ia tidak memahami dengan akalnya tatacara sholat yang telah digariskan oleh Rasulullah Saw. Seorang muslim juga tidak akan bisa menghukumi dengan tepat status suatu perbuatan atau benda jika ia tidak memahami secara rinci fakta dari perbuatan dan benda tersebut.

Al qur’an pedoman hidup manusia, sumber: madaninews.id

Demikianlah, kedudukan akal tidak lebih hanyalah sekadar sebagai alat pembukti dan alat untuk memahami wahyu. Pembuktian terhadap eksistensi Allah, Muhammad utusan Allah, dan al-Qur’an sebagai kalamullah, didasarkan pada akal. Sedangkan, penetapan hukum atas suatu perbuatan dan benda —yang dikaitkan dengan halal haram— harus didasarkan pada wahyu, bukan akal. Akal hanya berfungsi untuk memahami, bukan berkedudukan sebagai dalil. Dalilnya tetap al-Qur’an dan sunnah, sedangkan akal hanya berfungsi untuk memahami dalil dan fakta yang hendak dihukumi.Wallahu a’lam bi al-shawab.

[Syamsuddin Ramadhan]

Sumber hayatulislam.net

Terimakasih sudah menyimak artikel yang berjudul asli “Kedudukan Akal Di Dalam Islam” sampai akhir. Kami dari anaksholeh.net menambahkan gambar, link, dan perubahan pada judul artikel agar lebih menarik. Jika dirasa bermanfaat untuk umat, silahkan share diberbagai platform sosial media yang ada. Jazakumullah khair

Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian, bukan berarti akal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalu cocok dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala, dalam permasalahan apa pun.

Akal adalah nikmat besar yang Allah subhanahu wa ta’ala titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yang bisa disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat menakjubkan. (al-‘Aql wa Manzilatuhu fil Islam, hlm. 5)

Oleh karenanya, dalam banyak ayat, Allah subhanahu wa ta’ala memberi semangat untuk berakal (yakni menggunakan akalnya), di antaranya,

وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتُۢ بِأَمۡرِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ١٢

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).” (an-Nahl: 12)

وَفِي ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٞ مُّتَجَٰوِرَٰتٞ وَجَنَّٰتٞ مِّنۡ أَعۡنَٰبٖ وَزَرۡعٞ وَنَخِيلٞ صِنۡوَانٞ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٖ يُسۡقَىٰ بِمَآءٖ وَٰحِدٖ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلۡأُكُلِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ٤

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (ar-Ra’d: 4)

Sebaliknya Allah subhanahu wa ta’ala mencela orang yang tidak berakal seperti dalam ayat-Nya,

وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ١٠

“Dan mereka berkata, ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala’.” (al-Mulk: 10)

Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “(Maknanya yaitu) tidak berakal dan tidak punya tamyiz (daya pemilah)… Bagaimanapun (hal itu) tidak terpuji dari sisi itu, sehingga tidaklah terdapat dalam kitab Allah subhanahu wa ta’ala serta dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pujian dan sanjungan bagi yang tidak berakal serta tidak punya tamyiz dan ilmu. Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala telah memuji amal, akal, dan pemahaman bukan hanya dalam satu tempat, serta mencela keadaan yang sebaliknya di beberapa tempat….” (al-Istiqamah, 2/157)

Kita pun dapat melihat agama Islam dalam ajarannya memberikan beberapa bentuk kemuliaan terhadap akal, seperti:

  1. Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan akal sebagai tempat bergantungnya hukum sehingga orang yang tidak berakal tidak dibebani hukum.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ، عَنِ الَجْمْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلىَ عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ، وَعَنِ النَّائِم حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ

“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yang gila yang akalnya tertutup sampai sembuh, orang yang tidur sehingga bangun, dan anak kecil sehingga baligh.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan ad-Daruquthni dari sahabat ‘Ali dan Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma. Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Sahih” dalam Shahih Jami’, no. 3512)

  1. Islam menjadikan akal sebagai salah satu dari lima perkara yang harus dilindungi yaitu: agama, akal, harta, jiwa, dan kehormatan. (al-Islam Dinun Kamil 34—35)
  2. Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan khamr untuk menjaga akal.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّمَا ٱلۡخَمۡرُ وَٱلۡمَيۡسِرُ وَٱلۡأَنصَابُ وَٱلۡأَزۡلَٰمُ رِجۡسٞ مِّنۡ عَمَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَٱجۡتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٩٠

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maidah: 90)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

        كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan itu haram.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Abu Musa al-Asy‘ari radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Dalam rangka menjaga akal maka wajib ditegakkan had atas peminum khamr.” (al-Islam Dinun Kamil hlm. 34—35)

  1. Tegaknya dakwah kepada keimanan berdasarkan kepuasan (kemantapan) akal. Artinya, keimanan tidak berarti mematikan akal, bahkan Islam menyuruh akal untuk beramal pada bidangnya sehingga mendukung kekuatan iman dan tidak ada ajaran manapun yang memuliakan akal sebagaimana Islam memuliakannya; tidak menyepelekan dan tidak pula berlebihan. Yang dilakukan para pengultus akal yang mereka beritikad memuliakan akal, pada hakikatnya mereka justru menghinakan akal serta menyiksanya karena mambebani akal dengan sesuatu yang tidak mampu.

Walaupun akal dimuliakan tapi kita menyadari bahwa akal adalah sesuatu yang berada dalam jasmani makhluk. Ia sebagaimana makhluk yang lain, memiliki sifat lemah dan keterbatasan.

As-Safarini rahimahullah berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan akal dan memberinya kekuatan adalah untuk berpikir dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan padanya batas yang ia harus berhenti padanya dari sisi berpikirnya bukan dari sisi ia menerima karunia Ilahi. Jika akal menggunakan daya pikirnya pada lingkup dan batasnya serta memaksimalkan pengkajiannya, ia akan tepat (menentukan) dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala. Jika ia menggunakan akalnya di luar lingkup dan batasnya yang Allah subhanahu wa ta’ala telah tetapkan maka ia akan membabi buta….” (Lawami’ul Anwar al-Bahiyyah, hlm. 1105)

Untuk itu kita perlu mengetahui di mana sesungguhnya bidangnya akal. Intinya bahwa akal tidak mampu menjangkau perkara-perkara gaib di balik alam nyata yang kita saksikan ini, seperti pengetahuan tentang Allah subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya, arwah, surga dan neraka yang semua itu hanya dapat diketahui melalui wahyu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Berpikirlah pada makhluk-makhluk Allah subhanahu wa ta’ala dan jangan berpikir pada Dzat Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. ath-Thabarani, al-Lalikai, dan al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar. Lihat ash-Shahihah no. 1788 dan asy-Syaikh al-Albani menyatakan hasan)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (al-Isra: 85)

Oleh karenanya, akal diperintahkan untuk pasrah dan mengamalkan perintah syariat meskipun ia tidak mengetahui hikmah di balik perintah itu. Karena, tidak semua hikmah dan sebab di balik hukum syariat bisa manusia ketahui. Yang terjadi, justru terlalu banyak hal yang tidak manusia ketahui sehingga akal wajib tunduk kepada syariat.

Diumpamakan oleh para ulama bahwa kedudukan antara akal dengan syariat bagaikan kedudukan seorang awam dengan seorang mujtahid. Ketika ada seseorang yang ingin meminta fatwa dan tidak tahu mujtahid yang berfatwa (tidak tahu harus ke mana minta fatwa), maka orang awam itu pun menunjukkannya kepada mujtahid. Setelah mendapat fatwa, terjadi perbedaan pendapat antara mujtahid yang berfatwa dengan orang awam yang tadi menunjuki orang tersebut.

Tentunya bagi yang meminta fatwa harus mengambil pendapat sang mujtahid yang berfatwa dan tidak mengambil pendapat orang awam tersebut karena orang awam itu telah mengakui keilmuan sang mujtahid dan bahwa dia (mujtahid) lebih tahu (lebih berilmu). (Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 201)

Al-Imam az-Zuhri rahimahullah mengatakan, “Risalah datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, kewajiban Rasul menyampaikan dan kewajiban kita menerima.” (Syarh al-‘Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 201)

Orang yang menggunakan akal tidak pada tempatnya, berarti ia telah menyalahgunakan dan melakukan kezaliman terhadap akalnya. Sesungguhnya mazhab filasafat dan ahli kalam yang ingin memuliakan akal dan mengangkatnya—demikian perkataan mereka—belum dan sama sekali tidak akan mencapai sepersepuluh dari sepersepuluh apa yang telah dicapai Islam dalam memuliakan akal—ini jika kita tidak mengatakan mereka telah berbuat jahat dengan sejahat-jahatnya terhadap akal. Di mana ia memaksakan akal masuk ke tempat yang tidak mungkin mendapatkan jalan ke sana. (Minhajul Istidlal, dinukil dari al-‘Aqlaniyyun hlm. 21)

Akal yang Terpuji dan yang Tercela

Menengok penjelasan yang telah lalu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan akal terkadang terpuji, yaitu ketika pada tempatnya. Terkadang juga tercela yaitu ketika bukan pada tempatnya. Adapun pendapat akal yang terpuji, secara ringkas adalah yang sesuai dengan syariat dengan tetap mengutamakan dalil syariat.

Akal yang tercela adalah sebagaimana disimpulkan Ibnul Qayyim rahimahullah yang menyebutkan bahwa pendapat akal yang tercela itu ada beberapa macam:

  1. Pendapat akal yang menyelisihi nash al-Qur’an atau as-Sunnah.
  2. Berbicara masalah agama dengan prasangka dan perkiraan yang dibarengi dengan sikap menyepelekan mempelajari nash-nash, memahaminya serta mengambil hukum darinya.
  3. Pendapat akal yang berakibat menolak asma (nama-nama) Allah subhanahu wa ta’ala, sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan teori atau qiyas (analogi) yang batil yang dibuat oleh para pengikut filsafat.
  4. Pendapat yang mengakibatkan tumbuhnya bid’ah dan matinya as-Sunnah.
  5. Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekadar dengan anggapan baik (dari dirinya) dan prasangka. (Lihat I’lam Muwaqqi’in, 1/104—106, al-Intishar, hlm. 21, 24, al-‘Aql wa Manzilatuhu)

Jadi, manakala kita mengambil sebuah kesimpulan dengan akal kita, kemudian ternyata hasilnya adalah salah satu dari lima yang tersebut di atas maka yakinlah bahwa itu pendapat yang tercela dan salah. Ia harus ditinggalkan dan menundukkan akal di hadapan kepada syariat.

Akal yang Sehat Tidak Akan Menyelisihi Syariat

Disebutkan dalam kaidah ahlul kalam—ringkasnya—bahwa tatkala bertentangan antara akal dan wahyu maka mesti dikedepankan akal. (Asasuttaqdis, hlm. 172—173)

Dengan prinsip ini, mereka menolak sekian banyak nash yang sahih, dahulu ataupun sekarang. Tentu kita tahu bahwa pendapat mereka adalah salah dan sangat berbahaya. Untuk mengetahui batilnya pendapat mereka dengan singkat dan mudah cukup dengan kita merujuk kepada lima hal yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah di atas.

Lebih rinci para ulama seperti Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Sesuatu yang diketahui dengan jelas oleh akal, sulit dibayangkan akan bertentangan dengan syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yang sahih tidak akan bertentangan dengan akal yang lurus, sama sekali. Saya telah memerhatikan hal itu pada kebanyakan hal yang diperselisihkan oleh manusia. Saya dapati, sesuatu yang menyelisihi nash yang sahih dan jelas adalah syubhat yang rusak dan diketahui kebatilannya dengan akal.

Bahkan diketahui dengan akal kebenaran, kebalikan dari hal tersebut yang sesuai dengan syariat. Kita tahu bahwa para rasul tidak memberikan kabar dengan sesuatu yang mustahil menurut akal tapi (terkadang) mengabarkan sesuatu yang membuat akal terkesima. Para rasul itu tidak mengabarkan sesuatu yang diketahui oleh akal sebagai sesuatu yang tidak benar namun (terkadang) akal tidak mampu untuk menjangkaunya.

Karena itu wajib bagi orang-orang Mu’tazilah yang menjadikan akal mereka sebagai hakim terhadap nash-nash wahyu, demikian pula bagi mereka yang berjalan di atas jalan mereka serta meniti jejak mereka agar mengetahui bahwa tidak terdapat satu hadits pun di muka bumi yang bertentangan dengan akal kecuali hadits itu lemah atau palsu.

Wajib bagi mereka untuk menyelisihi kaidah kelompok Mu’tazilah, kapan terjadi pertentangan antara akal dan syariat menurut mereka maka wajib untuk mengedepankan syariat. Karena akal telah membenarkan syariat dalam segala apa yang ia kabarkan sedang syariat tidak membenarkan segala apa yang dikabarkan oleh akal. Demikian pula kebenaran syariat tidak tergantung dengan semua yang dikabarkan oleh akal.” (Dar’u Ta’arrudhil ‘Aql wan Naql, 1/155, 138)

Ketika Dalil Bertentangan dengan Akal

Sesungguhnya pertentangan akal dengan syariat takkan terjadi manakala dalilnya sahih dan akalnya sehat. Namun terkadang muncul ketidakcocokan akal dengan dalil walaupun dalilnya sahih.

Kalau terjadi hal demikian maka jangan salahkan dalil, namun curigailah akal. Di mana bisa jadi akal tidak memahami maksud dari dalil tersebut atau akal itu tidak mampu memahami masalah yang sedang dibahas dengan benar. Adapun dalil, maka pasti benarnya.

Hal ini berangkat dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah yang mengharuskan kita untuk selalu kembali kepada dalil. Demikian pula anjuran para sahabat yang berpengalaman dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengalami kejadian turunnya wahyu. Seperti dikatakan oleh ‘Umar bin al-Khaththab, “Wahai manusia, curigailah akal kalian terhadap agama ini.” (Riwayat ath-Thabarani, lihat Marwiyyat Ghazwah al-Hudaibiyyah, hlm. 177, 301)

Beliau mengatakan demikian karena pernah membantah keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pendapatnya, walaupun pada akhirnya tunduk. Beliau pada akhirnya melihat ternyata maslahat dari keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar dan tidak terjangkau oleh pikirannya.

Oleh karenanya, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jika dalil naqli bertentangan dengan akal, maka yang diambil adalah dalil naqli yang sahih dan akal itu dibuang dan ditaruh di bawah kaki, tempatkan di mana Allah subhanahu wa ta’ala meletakkannya dan menempatkan para pemiliknya.” (Mukhtashar as-Shawa’iq, hlm. 82—83 dinukil dari Mauqif al-Madrasah al-‘Aqliyyah, 1/61—63)

Abul Muzhaffar as-Sam’ani rahimahullah ketika menerangkan akidah Ahlus Sunnah berkata, “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka dan mencari agama dari keduanya. Apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dengan keduanya, mereka terima dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala di mana Allah subhanahu wa ta’ala perlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik-Nya. Namun jika tidak sesuai dengan keduanya, maka mereka meninggalkannya serta mengambil al-Kitab dan as-Sunnah kemudian menuduh salah terhadap akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya (al-Kitab dan as-Sunnah) tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang hak sedang pendapat manusia kadang benar kadang salah.” (al-Intishar li Ahlil Hadits hlm. 99)

Apabila Akal Didahulukan

Jika akal didahulukan, maka akan tergelincir pada sekian banyak bahaya:

  1. Menyerupai Iblis—semoga Allah subhanahu wa ta’ala melaknatinya—ketika diperintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam, kemudian ia membangkang dan menentang dengan akalnya.

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسۡجُدَ إِذۡ أَمَرۡتُكَۖ قَالَ أَنَا۠ خَيۡرٞ مِّنۡهُ خَلَقۡتَنِي مِن نَّارٖ وَخَلَقۡتَهُۥ مِن طِينٖ ١٢

“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’

Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.” (al- A’raf: 12)

  1. Menyerupai orang kafir yang menolak keputusan Allah subhanahu wa ta’ala dengan akal mereka, seperti penentangan mereka terhadap kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka katakan,

وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?’.” (az-Zukhruf: 31)

  1. Tidak mengambil faedah dari rasul sedikit pun karena mereka tidak merujuk kepadanya pada perkara-perkara ketuhanan.

Adanya rasul menurut mereka, seperti tidak ada. Keadaan mereka bahkan lebih jelek karena mereka tidak mengambil manfaat sedikit pun justru butuh untuk menolaknya.

  1. Mengikuti hawa nafsu dan keinginan jiwa.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَإِن لَّمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَكَ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهۡوَآءَهُمۡۚ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيۡرِ هُدٗى مِّنَ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥٠

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Qashash: 50)

  1. Menyebabkan kerusakan di muka bumi, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah.
  2. Berkata mengatasnamakan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya tanpa ilmu.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ وَلَا هُدٗى وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ٨

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.” (al-Hajj: 8)

Ini termasuk larangan terbesar.

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (al-A’raf: 33)

  1. Menyebabkan perbedaan dan perpecahan pendapat.
  2. Terjatuh dalam keraguan dan bimbang. (al-Mauqih, 1/81—92)

Pantaslah kalau al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan tentang orang-orang yang tetap mengedepankan akalnya, “Jika kamu melihat ahlul kalam ahli bid’ah mengatakan, ‘Tinggalkan kami dari al-Qur’an dan hadits ahad dan tampilkan akal,’ maka ketahuilah bahwa ia adalah Abu Jahl.” (Siyar A’lamin Nubala, 4/472)

Ditulis oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Video yang berhubungan

Postingan terbaru

LIHAT SEMUA